Rabu, 02 November 2016

Menggaris atau Membuat Lineart dengan Mouse di Paint Tool SAI

lineart

Kemarin saya udah share tentang gimana “gambaran” menggambardigital sekarang kita go to the next level, yaitu menggaris. Kenapa langsung menggaris? Kan ada sketching yang belum dibahas? Saya yakin kalau soal sketsa, kalian lebih jago dari saya so, kita langsung ke lining aja ya.

Menggaris, seperti artikel sebelumnya, saya bilang kalau menggaris bukan hanya sekedar membuat garis-garis. Menggaris di sini maksudnya adalah mengikuti pola sketsa agar terlihat sentuhan digitalnya. Memang tidak semua digital art menggunakan garis, contohnya painting, tapi garis ini tetap dibutuhkan dalam menggambar digital.

Bagi pengguna pen tablet, menggaris ini bukan menjadi sebuah masalah, udah tinggal setting “tada!” bisa menggaris. Untuk pengguna mouse? Kalau saya bilang lebih mudah, kalian mau percaya? Saya serius loh, menggaris menggunakan mouse lebih mudah dibanding menggunakan pen tablet, setidaknya itu menurut saya, ya.

Langsung saja ke topik awal, bagaimana menggaris dengan mouse. Karena saya pengguna Paint Tool SAI, saya akan menggunakan Paint Tool SAI di sini.

1.      Pasang mouse

Sebenernya ini nggak usah dikasih tau juga pasti dilakuin sih. Bagaimana kalau kalian nggak punya perangkat mousenya? Kalau kalian pengguna laptop, bisa gunakan mouse pad yang ada langsung di laptop. Mouse pad ini bisa jadi alternatif kalau mau cari suasana baru atau buat pamer kalau nanti hasilnya bagus. Meskipun begitu, kalau saya boleh kasih saran jangan terlalu sering menggunakan mouse pad takut menimbulkan "kecepetrusakan".

2.      Buka sketsa, atur opacitynya menjadi kurang dari 50%

sketsa opacity kurang dari 50%
Opacity sketsa kurang dari 50% agar nanti saat digaris pola sketsa tidak terlihat sama dengan garis gambar. Kalau opacity sketsa tetap 100%, garis gambar tidak akan terlihat dan ditakutkan hasil tidak sama dengan pola sketsa.

3.      Setting warna

Akhirnya mulai, sebelum mulai jangan lupa menyetel warna berbeda dengan warna sketsa. Pensil biasanya berwarna abu-abu atau hitam, tidak dianjurkan untuk menggunakan hitam lagi untuk garisnya. Cobalah gunakan coklat atau warna lain, sekali lagi ini untuk memisahkan yang mana yang sketsa yang mana yang garis.

4.      Pilih New Linework Layer

layer list
Apa bedanya sama layer biasa? Ini layer luar biasa. Tanpa layer ini akan sulit untuk pengguna mouse menggaris meskipun bisa juga sih tanpa layer ini. Layer ini berbeda dengan layer biasa karena di layer ini kita bisa menggaris selayaknya vektor. Kalau di Photoshop, path tools ada di layer ini. Itu kenapa pada Paint Tool SAI,  path tools tidak ada di list tools pada layer biasa.

5.      Silahkan memilih tools

isi tools pada linework layer
Sekarang kita bisa mulai menggaris. Pilihlah tools yang diinginkan, bisa pen, curve, atau line. Saran saya gunakan curve untuk mengikuti pola dari sketsa. Untuk fungsi tools yang lain menyusul ya.
hasil awaldari pemberian garis

6.      Sudah selesai menggaris pola, beri sedikit pemanis, yuk!

Meskipun sudah selesai membuat pola, garis masih terlihat kaku kan? Gunakan pressure tools. Cara menggunakannya, pilih titik yang ada pada garis lalu tarik sesuai kebutuhan.
hasil tahap dua dari pemberian garis
Agar terlihat lebih bagus, gunakan  pressure tools ini mengikuti tekanan dari pena asli. Saat menggunakan pena atau pensil di ujung garis biasanya tekanannya lebih kecil, jadi buatlah ujungnya lancip.

7.      Hide layer sketsa

Klik tanda mata pada layer dan hasilnya akan…

Hasil akhir dari lining

Bagaimana, mudah kan? Hasilnya juga tidak kalah dengan goresan pen tablet. Bedanya adalah pengerjaan menggunakan mouse ini memakan waktu lebih lama jadi harus ekstra sabar saat mengerjakan. Meskipun begitu, hasilnya bisa lebih rapi dari hasil pen tablet bila telaten mengerjakannya. Semoga bermanfaat…

Cerpen: Hidup

Keliatan kaya tema nasionalisme ya?

Aku berada di ruangan serba putih sambil melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Di dalam sana aku tersenyum seakan tidak ada beban satu helai bulu pun yang menimpa pundakku. Kalau saja aku tersadar mungkin aku akan bertanya mengapa hal sesederhana bisa membuat aku tersenyum sebahagia ini. Namun ketenangan tempat itu membuat aku terbuai.

Aku mulai bangun dan berjalan, namun aku tidak bisa melihat apapun kecuali warna putih. Berjalan dan berjalan, aku melihat sebuah rak buku kecil berisi beberapa buku catatan dengan warna yang berbeda. Karena merah adalah warna favoritku, kuambil buku dengan warna merah. Aku sangat ingin membacnya. Sebenarnya aku bukan orang yang senang membaca, namun sekali lagi tempat itu membuatku tenang sampai rasanya aku lupa akan rutinitas dan kebiasaanku.

Aku penasaran apa isinya. Perlahan aku membuka buku catatan itu. Teraneh-aneh, aku kira buku catatan itu akan berisikan gambar atau tulisan-tulisan seperti buku catatan pada umumnya, tapi ternyata di dalamnya hanya tanggal-tanggal yang ditulis acak dengan bulan dan tahun yang berbeda-beda.

Cukup lama aku melihat isi buku catatan itu, tetap saja aku tidak mengerti apa maksud isinya. Dengan kecewa, kututup kembali buku itu. Tak lama, seluruh ruangan berubah menjadi merah. Tenang yang tadinya kurasakan berubah menjadi kepanikan yang tiada tara. Aku berlari, berlari mencari pintu keluar, namun tetap saja sama, tidak ada apapun.

Tak lama berselang setelah berlari cukup lama, aku menemukan sebuah televisi besar. Lebarnya hampir memenuhi tembok. Harga televisi ini mungkin setara dengan dua kali gajiku. Karena takut dan panik, aku langsung menyalakan televisi itu tanpa pikir panjang. Layar yang gelap mulai berubah. Aku kembali dibuat kaget ketika yang aku lihat di televisi itu adalah diriku sendiri.

Seluruh tubuhku bergetar, sampai-sampai aku tidak bisa bergerak bahkan  seujung jari pun tidak. Dalam televisi itu aku melihat diriku, seluruh perlakuan jelekku, perkataan kasarku, semuanya, aku melihat semuanya. Aku berlutut sambil menutup telinga dan mataku. Belum mulai aku berteriak tiba-tiba ada seseorang yang datang ke arahku. Merasa senang, aku berlari ke arahnya.

“Pembohong!”

Langkahku terhenti ketika aku mendengar teriakan itu darinya. Seiring waktu  orang-orang mulai datang, banyak, sangat banyak. Mereka mengelilingi aku dan meneriakan hal yang sama.

“Bohong!”

“Pendusta!”

“Aku tidak pernah percaya padamu”


Aku menutup telingaku, memejamkan mataku, dalam, dalam. Sampai akhirnya, membuka mataku lagi dan melihat dunia yang berbeda. Apa aku tersadar, atau malah aku sedang terlelap.
Diberdayakan oleh Blogger.