Rabu, 02 November 2016

Cerpen: Hidup

Keliatan kaya tema nasionalisme ya?

Aku berada di ruangan serba putih sambil melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Di dalam sana aku tersenyum seakan tidak ada beban satu helai bulu pun yang menimpa pundakku. Kalau saja aku tersadar mungkin aku akan bertanya mengapa hal sesederhana bisa membuat aku tersenyum sebahagia ini. Namun ketenangan tempat itu membuat aku terbuai.

Aku mulai bangun dan berjalan, namun aku tidak bisa melihat apapun kecuali warna putih. Berjalan dan berjalan, aku melihat sebuah rak buku kecil berisi beberapa buku catatan dengan warna yang berbeda. Karena merah adalah warna favoritku, kuambil buku dengan warna merah. Aku sangat ingin membacnya. Sebenarnya aku bukan orang yang senang membaca, namun sekali lagi tempat itu membuatku tenang sampai rasanya aku lupa akan rutinitas dan kebiasaanku.

Aku penasaran apa isinya. Perlahan aku membuka buku catatan itu. Teraneh-aneh, aku kira buku catatan itu akan berisikan gambar atau tulisan-tulisan seperti buku catatan pada umumnya, tapi ternyata di dalamnya hanya tanggal-tanggal yang ditulis acak dengan bulan dan tahun yang berbeda-beda.

Cukup lama aku melihat isi buku catatan itu, tetap saja aku tidak mengerti apa maksud isinya. Dengan kecewa, kututup kembali buku itu. Tak lama, seluruh ruangan berubah menjadi merah. Tenang yang tadinya kurasakan berubah menjadi kepanikan yang tiada tara. Aku berlari, berlari mencari pintu keluar, namun tetap saja sama, tidak ada apapun.

Tak lama berselang setelah berlari cukup lama, aku menemukan sebuah televisi besar. Lebarnya hampir memenuhi tembok. Harga televisi ini mungkin setara dengan dua kali gajiku. Karena takut dan panik, aku langsung menyalakan televisi itu tanpa pikir panjang. Layar yang gelap mulai berubah. Aku kembali dibuat kaget ketika yang aku lihat di televisi itu adalah diriku sendiri.

Seluruh tubuhku bergetar, sampai-sampai aku tidak bisa bergerak bahkan  seujung jari pun tidak. Dalam televisi itu aku melihat diriku, seluruh perlakuan jelekku, perkataan kasarku, semuanya, aku melihat semuanya. Aku berlutut sambil menutup telinga dan mataku. Belum mulai aku berteriak tiba-tiba ada seseorang yang datang ke arahku. Merasa senang, aku berlari ke arahnya.

“Pembohong!”

Langkahku terhenti ketika aku mendengar teriakan itu darinya. Seiring waktu  orang-orang mulai datang, banyak, sangat banyak. Mereka mengelilingi aku dan meneriakan hal yang sama.

“Bohong!”

“Pendusta!”

“Aku tidak pernah percaya padamu”


Aku menutup telingaku, memejamkan mataku, dalam, dalam. Sampai akhirnya, membuka mataku lagi dan melihat dunia yang berbeda. Apa aku tersadar, atau malah aku sedang terlelap.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.