![]() |
Aku berada di ruangan serba
putih sambil melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Di dalam
sana aku tersenyum seakan tidak ada beban satu helai bulu pun yang menimpa
pundakku. Kalau saja aku tersadar mungkin aku akan bertanya mengapa hal
sesederhana bisa membuat aku tersenyum sebahagia ini. Namun ketenangan tempat
itu membuat aku terbuai.
Aku mulai bangun dan
berjalan, namun aku tidak bisa melihat apapun kecuali warna putih. Berjalan dan
berjalan, aku melihat sebuah rak buku kecil berisi beberapa buku catatan dengan
warna yang berbeda. Karena merah adalah warna favoritku, kuambil buku dengan
warna merah. Aku sangat ingin membacnya. Sebenarnya aku bukan orang yang senang
membaca, namun sekali lagi tempat itu membuatku tenang sampai rasanya aku lupa
akan rutinitas dan kebiasaanku.
Aku penasaran apa isinya.
Perlahan aku membuka buku catatan itu. Teraneh-aneh, aku kira buku catatan itu
akan berisikan gambar atau tulisan-tulisan seperti buku catatan pada umumnya,
tapi ternyata di dalamnya hanya tanggal-tanggal yang ditulis acak dengan bulan
dan tahun yang berbeda-beda.
Cukup lama aku melihat isi
buku catatan itu, tetap saja aku tidak mengerti apa maksud isinya. Dengan
kecewa, kututup kembali buku itu. Tak lama, seluruh ruangan berubah menjadi
merah. Tenang yang tadinya kurasakan berubah menjadi kepanikan yang tiada tara.
Aku berlari, berlari mencari pintu keluar, namun tetap saja sama, tidak ada
apapun.
Tak lama berselang setelah
berlari cukup lama, aku menemukan sebuah televisi besar. Lebarnya hampir
memenuhi tembok. Harga televisi ini mungkin setara dengan dua kali gajiku.
Karena takut dan panik, aku langsung menyalakan televisi itu tanpa pikir
panjang. Layar yang gelap mulai berubah. Aku kembali dibuat kaget ketika yang
aku lihat di televisi itu adalah diriku sendiri.
Seluruh tubuhku bergetar,
sampai-sampai aku tidak bisa bergerak bahkan
seujung jari pun tidak. Dalam televisi itu aku melihat diriku, seluruh
perlakuan jelekku, perkataan kasarku, semuanya, aku melihat semuanya. Aku berlutut
sambil menutup telinga dan mataku. Belum mulai aku berteriak tiba-tiba ada
seseorang yang datang ke arahku. Merasa senang, aku berlari ke arahnya.
“Pembohong!”
Langkahku terhenti ketika
aku mendengar teriakan itu darinya. Seiring waktu orang-orang mulai datang, banyak, sangat
banyak. Mereka mengelilingi aku dan meneriakan hal yang sama.
“Bohong!”
“Pendusta!”
“Aku tidak pernah percaya
padamu”
Aku menutup telingaku,
memejamkan mataku, dalam, dalam. Sampai akhirnya, membuka mataku lagi dan
melihat dunia yang berbeda. Apa aku tersadar, atau malah aku sedang terlelap.

0 komentar:
Posting Komentar