Cepat, padat, dan informatif, ialah
kriteria yang dimilikinya. Terutama di
era serba gesit ini, mereka sangat digemari. Pertanyaannya adalah apakah semua
dari mereka bisa dipercaya.
Media online memang tak kenal ampun dalam hal keaktualitasan. Ya, kecepatan
merupakan jurus andalan dari media yang katanya merukapan efek dari konvergensi
media ini. Tak ada yang menandingi kegesitannya dalam menyampaikan berita.
Selain cepat media online juga singkat dan padat. Selain
beritanya yang cepat muncul bacanya pun cepat. Meskipun begitu ia sarat
informasi, memang tidak seinformatif koran namun cukup untuk memuaskan dahaga
masyarakat akan informasi.
Sangat primadona dan cocok untuk
masyarakat perkotaan yang tidak memiliki banyak waktu untuk membaca. Yang lebih
mempermudah lagi adalah banyaknya share
di media sosial tentang berita-berita yang ada di media online. Jadi setali tiga uang, update
status iya, baca berita juga iya.
Dari kecepatan dan keviralannya
ini, apakah media online tanpa
celah? Tentu saja tidak. Harusnya dari
sini timbul banyak pertanyaan. Pernahkah tersirat dalam benak, dari mana mereka
mendapat informasi yang begitu cepat, bahkan kadang koran atau televisi tidak
memberitakan itu. Ada tanda tanya di sana, kan?
Selain aksesnya ternyata membuat media
online ini sangat mudah. Heru Catur,
aktivis Internet Sehat menyatakan media online
di Indonesia jumlahnya mencapai 300-an. Jumlah yang tentu tidak sedikit, namun
yang memprihatinkan hanya 20 yang kredibel. Ini berarti ada lebih dari 200
media online yang masih jadi
pertanyaan.
Bukannya lebih banyak lebih bagus? Justru
ini seharusnya menjadi kekhawatiran sendiri. Ketika media online menjamur, berita juga akan menjamur. Tapi dari sini akan
banyak ditemukan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi kalau itu
Cuma share dari sosial media.
Menurut Reuters Institute Digital
News Report 2016, mayoritas orang menggunakan media sosial untuk mendapatkan
berita. Di AS, angkanya mencapai 46 persen. Namun, penelitian yang diadakan
ilmuwan komputer di Universitas Colombia dan French National Institute
menunjukkan fakta jika 59 persen link berita yang ada di media sosial tidak
diklik. Inilah penyebab kenapa banyak berita di media online yang mempunyai judul yang “hebat”, sampai-sampai berita yang
mereka tulis tidak ada di tv dan koran saking “hebat”-nya.
Hal ini memang sulit untuk
dibendung, apalagi kalau bukan karena uang. Oknum-oknum tidak bertanggung jawab
menjadikan media online sebagai
bisnis yang dapat menghasilkan uang dengan cepat. Pemilik media online ini hanya mementingkan jumlah
klik sampai-sampai mengabaikan, jangankan undang-undang tentang jurnalistik,
kode etiknya saja tidak pernah dilirik.
Kalau saya menjadi pemilik dari
media online hal semacam ini akan
saya hindari. Bertumpu pada kode etik yang sudah seharusnya menjadi tumpuan. Kalau
bisa bukan hanya keakuratan isi berita tapi juga keakuratan tatabahasa dan
ejaan. Wartawan harus dituntut untuk akurat namun juga bisa menyunting berita
sendiri sebelum dikirim lewat email ke redaksi.
Hal yang cukup mengkhawatirkan
namun diantara media-media online
tersebut pasti ada yang kekredibilitasanya terhalangi oleh berita hoax masa kini. Jika saat ini ada yang tersirat untuk membuat
media online jadikan lah UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers sebagai
pertimbangan. Dan bagi yang suatu saat ingin bekerja di media online cek dulu apakah media itu
benar-benar kredibel. Cek mulai dari keberadaan kantor sampai isi berita dari
media tersebut. Jangan sampai malah terjerumus ke dalam media online yang salah.
Jika ada yang beniat membuat media online, maka tanggung jawabnya bukan
hanya satu namun setara dengan jumlah klik yang didapatkan.
Media online cepat, tapi masih diragukan kredibilitasnya. Pengguna media online harus sering-sering mengupdate informasinya, dibanding media lainnya yang kebanyakan sudah disajikan secara lengkap.
BalasHapusMedia online saat ini memang menjadi alat pemuas informasi yang paling banyak dicari masyarakat. Maka dari itu, sebagai pembaca, kita juga harus pintar memilah dan memilih media online mana yang sudah terjamin kredibilitasnya.
BalasHapus