Kamis, 22 September 2016

Yang Cepat Apa Sudah Tepat?


Cepat, padat, dan informatif, ialah kriteria yang dimilikinya. Terutama  di era serba gesit ini, mereka sangat digemari. Pertanyaannya adalah apakah semua dari mereka bisa dipercaya.

Media online memang tak kenal ampun dalam hal keaktualitasan. Ya, kecepatan merupakan jurus andalan dari media yang katanya merukapan efek dari konvergensi media ini. Tak ada yang menandingi kegesitannya dalam menyampaikan berita.

Selain cepat media online juga singkat dan padat. Selain beritanya yang cepat muncul bacanya pun cepat. Meskipun begitu ia sarat informasi, memang tidak seinformatif koran namun cukup untuk memuaskan dahaga masyarakat akan informasi.

Sangat primadona dan cocok untuk masyarakat perkotaan yang tidak memiliki banyak waktu untuk membaca. Yang lebih mempermudah lagi adalah banyaknya share di media sosial tentang berita-berita yang ada di media online. Jadi setali tiga uang, update status iya, baca berita juga iya.

Dari kecepatan dan keviralannya ini, apakah media online tanpa celah?  Tentu saja tidak. Harusnya dari sini timbul banyak pertanyaan. Pernahkah tersirat dalam benak, dari mana mereka mendapat informasi yang begitu cepat, bahkan kadang koran atau televisi tidak memberitakan itu. Ada tanda tanya di sana, kan?

Selain aksesnya ternyata membuat media online ini sangat mudah. Heru Catur, aktivis Internet Sehat menyatakan media online di Indonesia jumlahnya mencapai 300-an. Jumlah yang tentu tidak sedikit, namun yang memprihatinkan hanya 20 yang kredibel. Ini berarti ada lebih dari 200 media online yang masih jadi pertanyaan.

Bukannya lebih banyak lebih bagus? Justru ini seharusnya menjadi kekhawatiran sendiri. Ketika media online menjamur, berita juga akan menjamur. Tapi dari sini akan banyak ditemukan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi kalau itu Cuma share dari sosial media.

Menurut Reuters Institute Digital News Report 2016, mayoritas orang menggunakan media sosial untuk mendapatkan berita. Di AS, angkanya mencapai 46 persen. Namun, penelitian yang diadakan ilmuwan komputer di Universitas Colombia dan French National Institute menunjukkan fakta jika 59 persen link berita yang ada di media sosial tidak diklik. Inilah penyebab kenapa banyak berita di media online yang mempunyai judul yang “hebat”, sampai-sampai berita yang mereka tulis tidak ada di tv dan koran saking “hebat”-nya.

Hal ini memang sulit untuk dibendung, apalagi kalau bukan karena uang. Oknum-oknum tidak bertanggung jawab menjadikan media online sebagai bisnis yang dapat menghasilkan uang dengan cepat. Pemilik media online ini hanya mementingkan jumlah klik sampai-sampai mengabaikan, jangankan undang-undang tentang jurnalistik, kode etiknya saja tidak pernah dilirik.

Kalau saya menjadi pemilik dari media online hal semacam ini akan saya hindari. Bertumpu pada kode etik yang sudah seharusnya menjadi tumpuan. Kalau bisa bukan hanya keakuratan isi berita tapi juga keakuratan tatabahasa dan ejaan. Wartawan harus dituntut untuk akurat namun juga bisa menyunting berita sendiri sebelum dikirim lewat email ke redaksi.

Hal yang cukup mengkhawatirkan namun diantara media-media online tersebut pasti ada yang kekredibilitasanya terhalangi oleh berita hoax masa kini.  Jika saat ini ada yang tersirat untuk membuat media online jadikan lah  UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers sebagai pertimbangan. Dan bagi yang suatu saat ingin bekerja di media online cek dulu apakah media itu benar-benar kredibel. Cek mulai dari keberadaan kantor sampai isi berita dari media tersebut. Jangan sampai malah terjerumus ke dalam media online yang salah.

Jika ada yang beniat membuat media online, maka tanggung jawabnya bukan hanya satu namun setara dengan jumlah klik yang didapatkan. 

2 komentar:

  1. Media online cepat, tapi masih diragukan kredibilitasnya. Pengguna media online harus sering-sering mengupdate informasinya, dibanding media lainnya yang kebanyakan sudah disajikan secara lengkap.

    BalasHapus
  2. Media online saat ini memang menjadi alat pemuas informasi yang paling banyak dicari masyarakat. Maka dari itu, sebagai pembaca, kita juga harus pintar memilah dan memilih media online mana yang sudah terjamin kredibilitasnya.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.